ini adalah sebuah kisah budi pekerti yang pernah saya baca dari sebuah buku(apa namanya lupa dah...)
langsung saja..
Di satu kota, hidup seorang ayah dan seorang anak laki-laki (ibunya tidak dikisahkan). Sang ayah mempunyai sebuah harapan kepada anaknya agar menjadi sarjana. Hari berganti hari sampai ketika anaknya akan diwisuda, sang anak berkata kepada ayahnya "Aku ingin ayah menghadiahiku sebuah mobil saat aku diwisuda nanti", ia tahu bahwa ayahnya mampu untuk itu dan sang ayah hanya tersenyum membalas perkataan anaknya itu.
Hari wisuda pun datang, sang anak sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan mobil barunya. Setelah selesai acara wisuda, sang ayah memanggil anaknya dan memberi sebuah kado sambil berkata,"Kamu telah memenuhi harapan ayah, aku sangat bangga padamu nak". Dengan penuh antusias sang anak membuka kado tersebut, kemudian raut wajahnya menjadi kecewa saat ia melihat isi kado tersebut adalah sebuah kitab. Sang ayah berharap agar anaknya tetap berada dijalan-Nya. Tetapi, dengan penuh kesal sang anak berkata kepada ayahnya "Dengan semua kekayaan yang ayah miliki, ayah hanya memberikanku hadiah ini !" impian mobilnya menjadi abu, kemudian ia meletakkan kitab tersebut di atas meja dan meninggalkan ayahnya.
Tahun demi tahun berlalu...
sang anak menjadi sukses saat itu, hingga akhirnya ia teringat akan ayahnya yang ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Ia sadar akan perbuatannya dimasa lalu adalah salah dan ingin membahagiakan orangtuanya. Kemudian ia pergi ke rumah ayahnya dengan tujuan meminta maaf, namun...sudah terlambat. Ayahnya sudah tiada, dengan penuh penyesalan sang anak menangis...
Saat ia memasuki rumah ayahnya, ia melihat sebuah kitab diatas meja yang tidak bisa ia lupakan. Itu adalah hadiah yang diberikan ayahnya saat ia diwisuda, ia membuka kitab tersebut , dengan kaget ia melihat sebuah kunci mobil serta secarik kertas bukti pembelian mobil tepat pada tanggal saat ia diwisuda. Dengan penuh tangis ia menyesali perbuatannya meronta-ronta meminta maaf...